Penantian Juara Liga Inggris Liverpool Selama Tiga Dasawarsa

Penungguan tiga dasawarsa usai setelah Manchester City kalah 2-1 atas Chelsea. Liverpool hanya butuh menang sekali lagi, namun kegagalan City untuk menang, berarti mereka tidak bisa mengejar poin Liverpool. Gelar ini adalah yang ke 19 bagi Liverpool dan yang pertama sejak musim 1989-90. Ada ribuan fans yang berkumpul untuk merayakan gelar juara, walaupun sedang dalam pandemi COVID-19.

Berikut beberapa hal penting yang berhasil Liverpool capai dalam perjalanan mereka juara Liga Premier Inggris musim ini.

Musim pemecah rekor

Gelar juara selalu menjadi tujuan utama klub yang sudah menunggu cukup lama untuk bisa merangkul juara Inggris kembali, telah berhasil juara 11 kali antara 1973 dan 1990. Rekor baru bisa tercipta, melewati perolehan 100 poin Manchester City dalam semusim sebelumnya.

Anak buah Klopp berhasil menciptakan salah satu perjalanan Liga Premier Inggris yang paling bersejarah, meraup 86 poin dari 28 kemenangan, hanya dua kali imbang dan satu kali kalah dari 31 pertandingan.

2019-20 Rerata (1990-91 sampai 2018-19)
28Kemenangan19.57
2Imbang9.72
1Kekalahan9.14
70Jumlah Gol65.45
21Gol Kebobolan38.83
86Poin68.57
90.32Kemenangan %50.81
Tabel perbandingan capaian Liverpool musim ini dan 29 musim terakhir

Rekor lainnya yang bisa dipecahkan adalah kemenangan terbanyak dalam semusim, dengan rekor saat ini di 32, kemenangan kandang terbanyak 18 kali, kemenangan tandang 16 dan jarak kemenangan terbesar dengan jarak 19 poin.

Data menjadi sangat krusial dalam memprediksi hasil pertandingan. Untuk ikutan main Anda bisa bergabung di sini.

Gelar kemenangan Liverpool musim ini adalah yang paling cepat, paling tidak dengan sisa 7 laga yang bisa dimainkan Liverpool. Secara kalender, gelar juara ini tidak bisa dikatakan yang paling cepat karena tertunda diakibatkan pandemi virus corona dari Maret sampai Mei lalu.

Penungguan tiga dasawarsa

Liverpool yang sudah puasa juara selama tiga dasawarsa, bukannya tidak pernah memenangi gelar juara apa pun. Ada Piala FA, empat Piala Liga, Piala UEFA sampai Liga Champions sebanyak dua kali. Ditambah gelar Piala Super dan Piala Dunia Antar Klub. Namun sejak 1990, mereka tidak mampu meraih gelar Liga Premier Inggris, dan rekor jumlah piala direbut pesaing dari kota Manchester, yang berhasil mencatatkan 20 gelar liga sejauh ini.

Sejauh ini mereka sudah tiga kali mendekati gelar juara, semasa kepelatihan Gerard Houllier (2001-02) dan Rafael Benitez (2008-09). Ditambah Brendan Rodgers pada 2013-14 di mana Gerrard terpeleset yang membuat Chelsea berhasil mencetak gol dan memupuskan asa mereka juara pada musim tersebut. Musim lalu, mereka berhasil meraih 97 poin dengan hanya kalah dalam satu pertandingan, namun ada Manchester City yang bahkan lebih baik. Walaupun begitu musim ini berkata lain setelah berhasil memenangkan gelar Liga Champions musim lalu, momentum besar berhasil dipergunakan Salah dan kawan-kawan musim 2019-20 ini.

Faktor Juergen Klopp

Penunjukan Klopp sebagai pelatih merupakan faktor terpenting dalam peningkatan performa mereka sampai saat ini. Pelatih berkebangsaan Jerman tersebut tiba di Anfield pada Oktober 2015 lalu menggantikan Rodgers dan Liverpool yang tertatih-tatih di peringkat 10.

Klopp tiba dengan rekor sukses bersama Dortmund yang berhasil merangkul dua gelar Bundesliga dan Final Liga Champions pada 2013, dengan gaya permainan cepat dan tekanan tinggi. Semenjak ditunjuk sebagai pelatih, ia berhasil membawa Liverpool ke peringkat empat dua kali, kedua, dan musim ini di peringkat satu.

Kepiawaiannya di bursa transfer juga menjadi kelebihan lainnya. Kontrak Mohamed Salah dan Sadio Mane termasuk yang terbaik. Ditambah Roberto Firmino, yang direkrut lebih dulu, ketiganya berhasil mencetak 211 gol dalam kurang dari 3 musim. Salah mencetak 92 gol, Mane 65 gol dan Firmino 54 gol. Kemudian juga penjaga gawang mumpuni Alisson dan pemain belakang yang masuk daftar Ballon d’Or, Virgil van Dijk.

Kesuksesan Klopp tidak bisa dianggap enteng dengan tren yang terus meningkat, dan budget transfer besar yang disediakan manajemen Liverpool, kita hanya bisa menunggu Liverpool menunjukkan konsistensinya di tanah Eropa untuk kembali menjadi klub terbaik seperti tiga dasawarsa lalu.