Serge Gnabry: Mantan Pemain Arsenal Kini Pemain Terbaik Liga Champions

Pemain bekas tim muda Arsenal ini tampil dalam 10 laga di Liga Champions bersama Bayern Munchen musim lalu. Ia mampu menorehkan 9 gol dan 2 assist. Selain itu berdasarkan catatan statistik lainnya, ia juga membuat 2 kartu kuning dalam 766 menit berlaga. Catatan golnya terhitung spektakuler. Ia hanya kalah dari kompatriotnya di Bayern Munchen, Robert Lewandowski dengan torehan 15 gol dan 6 asisst dari jumlah laga yang sama. Namun nama Gnabry lebih unggul berkat performa yang berhasil ditunjukkan di laga-laga krusial Bayern Munchen saat mengalahkan Barcelona di perempat final dan juga Lyon di Semifinal. Untuk Anda yang ingin melihat daftar odds lengkap dari babak kualifikasi Liga Champions, bisa berkunjung ke sini.

Ia berhasil menyumbangkan satu gol ke gawang Andre Ter Stegen pada menit 27. Golnya berhasil mengukuhkan posisi Bayern Munchen untuk melangkahi Barcelona ke Semifinal. Apalagi, kecepatannya terus menjadi ancaman bagi pemain-pemain Barcelona seperti Pique, Busquets dan de Jong yang terus menjadi bulan-bulanan Gnabry untuk dilewati dan menyematkan ancaman ke depan gawang Ter Stegen. Ancaman kecepatan yang ditunjukkan juga membuat Barcelona tidak bisa sepenuhnya keluar menyerang dimana barisan pemain tengah Barcelona saat itu dihuni pemain lamban seperti A. Vidal dan juga Sergi Roberto. Dalam pertandingan tersebut, ia juga berhasil menyumbangkan 1 assist pertandingan.

Dalam pertandingan melawan Olympique Lyonnais, peran Serge Gnabry dalam membawa Bayern Munchen ke laga Final Liga Champions sangat kentara. Bagaimana tidak, ia langsung mampu menyumbang 2 gol cepat di menit 18 dan 33. Gol tambahan dari Robert Lewandowski di menit ke 88 hanya mampu mengukuhkan posisi mereka untuk berlaga di laga selanjutnya. Dalam laga ini, kecepatan dan kemampuan dribble nya untuk menembus pertahanan Lyon jelas berperan krusial. Apalagi kematangan dalam penyelesaian akhir mulai menjadi kelebihan tambahan dari pemain tim nasional Jerman tersebut.

Sepak terjangnya di grup B juga tidak kalah meriah. Ia berhasil mencetak 4 gol sekaligus ke gawang Tottenham Hotspur dalam laga kedua grup B. Berposisi sebagai penyerang sayap kiri, ia berhasil menyumbangkan 4 gol dan 1 assist dalam 90 menit pertandingan. Paling tidak fans Arsenal tetap bisa bahagia ia bisa membalaskan dendam mantan klubnya ke salah satu rival kota London tersebut. Namun penyesalan besar dari fans Arsenal pastinya tidak bisa ditahan lagi. Jika saja mereka mampu mempertahankan sang bintang, Arsenal sendirilah yang akan mampu menggulung Tottenham setiap musim.

Di usianya yang masih prima, 25 tahun, tentu saja kita masih bisa melihat sepak terjangnya di Bundesliga dan juga Liga Champions sampai setengah dekade ke depan. Walaupun terlambat matang, hal ini dikarenakan jam bermainnya yang terbatas saat masih membela Arsenal. Di usianya ke 20 tahun pun, ia sempat mengalami cedera lutut parah yang memaksanya untuk istirahat selama semusim penuh. Di masa inilah ia mulai dipinjamkan ke West Brom dan performanya malah tidak bertambah baik. Ia menjadi frustasi dan meminta manajemen untuk menjualnya ke Werder Bremen.

Dibeli Arsene Wenger sejak usia 17 tahun, ia memiliki potensi besar untuk tumbuh berkembang dengan baik. Apalagi sejak saat itu sang pemain sudah punya kemampuan fisik prima untuk menjadi pemain sayap top Eropa. Kasus yang agak berbeda dari Aaron Ramsey yang berhasil mampu bangkit kembali setelah cedera panjangnya. Mungkin jika ia memilih klub pinjaman lain yang menjanjikan pertandingan lebih banyak selain West Brom, ia bisa saja masih membela Arsenal dan membantu timnya bangkit dari keterpurukan musim ini.