Sejarah Dan Transformasi Stadion Gelora Bung Karno

Stadion kebanggaan masyarakat Indonesia ini tidak lahir begitu saja. Stadion Gelora Bung Karno mulai dibangun pada 8 Februari 1960 dan sampai saat ini sudah mengalami beberapa renovasi pada era Soeharto. Presiden pertama Indonesia tersebut adalah lulusan Insinyur dari Institut Teknologi Bandung dan dalam masanya ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa jika negara lain bisa membangun gedung-gedung besar, bangsa Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama. Beberapa hasil dari visi nya tersebut adalah Hotel Indonesia, Masjid Istiqlal sampai Stadion Utama Gelora Bung Karno ini.

Ada banyak fungsi dari stadion utama ini, termasuk di dalamnya gelaran acara internasional, nasional, sampai menjadi markas tim Persija sejak didaftarkannya pada awal tahun 2020. Namun, tampaknya disebabkan virus COVID-19, pemanfaatannya masih harus menunggu waktu sampai gelaran Liga 1 kembali digulirkan pada 14 Juni nani saat melawan Barito Putra pada Minggu, pukul 18.30 WIB.

Sejarah

Pada awalnya, gagasan akan pembangunan Stadion Gelora Bung Karno muncul dari rencana untuk diselenggarakannya Asian Games keempat pada tahun 1962 yang lalu. Presiden Ir. Soekarno menjawab tantangan tersebut dengan membangun sebuah stadion yang kini menjadi salah satu kebanggaan seluruh bangsa Indonesia. Setelah melalui berbagai pertimbangan, terutama dalam hal geografis Jakarta, keputusan akhirnya jatuh pada pembangunan di bagian selatan Jakarta, yaitu daerah Senayan. Di mana berbatasan langsung dengan Satelit Kebayoran Baru.

Dalam sejarahnya pembukaan Asian Games keempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di mana dihadiri lebih dari 110 ribu penonton. Stadion dengan kapasitas besar seperti ini masih jarang ada. Bahkan stadion-stadion terkemuka Eropa, contohnya Camp Nou hanya berkapasitas 99 ribu penonton. Stadion bertaraf internasional ini sudah disambangi banyak tim top Eropa contohnya timnas Belanda, timnas Uruguay, klub dari Inggris Chelsea, klub Jerman Bayern Munchen dan lain-lain.

Pembangunan ini dibantu oleh Uni Soviet dalam bidang teknologi sampai pinjaman dana berupa utang. Ada banyak insinyur asli Indonesia dari lulusan luar negeri yang ikut membantu pembangunan SUGBK. Salah satunya adalah Friedrich Silaban. Pembangunan ini menunjukkan identitas bangsa Indonesia di mana dikemukakan Soekarno sebagai bagian pembentuk karakter masyarakat, terutama dalam hal persaingan dengan negara-negara luar.

Dalam GANEFO pun, yang kembali diselenggarakan di SUGBK pada 1963, Indonesia menunjukkan diri sebagai bangsa yang besar dengan pembangunan lanjutan komplek olahraga bertaraf internasional di mana bahkan negara maju sekali pun belum punya.

Harga Tiket

Untuk harga tiket masuk dalam gelaran Liga 1, Persija Jakarta mematok biaya tiket sebesar Rp. 150.000 untuk kategori 2, sedangkan kategori 1 senilai Rp. 250.000. Jika Anda berminat untuk duduk di kursi VIP, maka Anda harus mempersiapkan dana sebesar Rp. 500.000 per tiketnya. Harga ini bervariasi tergantung animo penggemar dan lawan yang akan dihadapi di Stadion Gelora Bung Karno. Anda bisa mengecek langsung situs Persija Jakarta atau lewat beberapa platform online lainnya.

Saat ini Kawasan SUGBK sudah tersedia banyak jenis fasilitas olahraga dan rekreasi. Dengan kawasan hijau dan flora fauna di sekitar kawasan. Terlebih dalam persiapan Asian Games 2018 lalu, Gubernur Jakarta Anies Baswedan telah berhasil merehabilitasi kawasan tersebut menjadi wilayah yang sangat hijau. Area pejalan kaki diperbaiki sampai pohon-pohon yang ditanam kembali. Hal ini sesuai dengan visi Soekarno untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan secara langsung meningkatkan kepercayaan diri bangsa untuk terus maju dan SUGBK berhasil menjadi muka Indonesia di dunia Internasional sampai hari ini.