Marcelo Bielsa dan Kebangkitan Leeds United

Leeds United akhirnya kembali ke kasta teratas Liga Premier Inggris untuk pertama kalinya selama 16 tahun, di mana berhasil menjuarai Liga Championship. Walaupun sepak bola adalah olahraga tim, namun dampak terbesar datang dari satu orang, Marcelo Bielsa. Di mana ia dikenal sebagai ahli taktik yang pertama kali menjabat sebagai pelatih kepala tim muda di Newell’s Old Boys.

Sejak saat itu ia mulai ikut melatih berbagai klub top Eropa seperti Athletic Bilbao, Marseille, Lille, Lazio, Espanyol sampai timnas Argentina. Ia mendapat banyak pujian karena gaya taktik yang menyeluruh, diikuti pembelajaran tentang lawan yang mendalam di setiap pertandingan. Pep Guardiola, pemenang gelar Liga Champions dua kali pernah memuji Bielsa sebagai pelatih terbaik di dunia.

Selama melatih Leeds, ia pernah terkena skandal Spygate. Ia memang terkenal mempersiapkan timnya dalam setiap pertandingan. Namun kejadian Spygate benar-benar bukan lagi hal yang normal. Di mana ia menyuruh beberapa karyawannya untuk mengintai sesi latihan lawannya. Saat itu Leeds United didenda £200.000 karena gagal bersikap sebagaimana mestinya.

Transformasi Taktik Leeds United

Leeds United menggunakan formasi 4-1-4-1 di atas kertas. Kalvin Philips menjadi pemain jangkar dan dipasang dengan Mateusz Klich dan Pablo Hernandez di tengah lapagan. Jack Harrison menjadi pemain sayap kiri dan Helder Costa di kanan. Sedangkan penyerang tunggal adalah Patrick Bamford.

Di barisan belakang, ada kapten Liam Cooper bersama Ben White sebagai bek tengah. Sementara Luke Ayling dan Stuart Dallas menjadi bek sayap Leeds. Walaupun di atas kertas tampak seperti 4-1-4-1, namun saat menapak ke lapangan, seringkali menjadi 3-3-1-3 atau 3-3-3-1 dalam transisinya.

Transformasi di lapangan terjadi saat Phillips mundur ke belakang bersama dua bek tengah lain untuk membentuk 3 bek dengan Ayling dan Dallas maju ke depan mengisi sayap tim didampingi Klich di tengah. Kemudian diisi pemain 35 tahun Hernandez sebagai playmaker utama Bielsa sebagai no. 10. Di depannya ada Harrison dan Costa bersama-sama menyapit Bamford di tengah.

Transformasi taktik ini menjadi bagian signifikan dari perencanaan Bielsa musim ini dan bagaimana mereka mengeksekusi pertandingan di lapangan.

Strategi Permainan Leeds United

Gaya permainan yang diterapkan Bielsa adalah filosofi menyerang, bola langsung dialirkan ke depan dan membutuhkan banyak kerja keras dari tim. Strategi bermain yang diusung mengedepankan penguasaan bola dengan bola lambung ke arah lawan. Leeds United tercatat menguasai bola terbanyak di Liga Championship (64,2% setiap pertandingan), diikuti peluang yang dihasilkan, peluang yang gagal, total tembakan setiap pertandingan dan jumlah tendangan terbanyak yang mengenai mistar gawang. Untuk Anda yang ingin melihat daftar odds terkini dari pertandingan Liga Premier Inggris, bisa melihat di sini.

Sangat jelas bahwa Leeds sangat suka menyerang. Hal ini dapat memberikan tekanan besar pada pertahanan mereka yang tersisa empat pemain saat terekspos serangan balik. Walaupun begitu, Bielsa tetap menekankan pemainnya untuk segera kembali bertahan, terutama di bagian sayap. Karena itulah banyak terjadi pelanggaran yang dilakukan Leeds selama di Liga Championship.

Karena hal ini pula Bielsa mempercayakan timnya untuk bekerja keras selama 90 menit pertandingan. Setelah menyerang dengan jumlah pemain yang banyak, mereka juga harus segera kembali bertahan dari serangan balik lawan. Strategi ini cukup baik berjalan sepanjang musim, walaupun dampaknya mulai terlihat di kuartal terakhir divisi Championship saat keletihan pemain sudah di puncaknya.

Walaupun begitu dalam musim terakhir mampu dimanfaatkan dengan baik oleh manajemen Leeds dengan menambah amunisi pemain seperti Helder Costa, Ben White dan Jack Harrison. Bielsa mampu mengembalikan Leeds ke liga teratas Inggris setelah tertatih-tatih di kasta bawah liga domestik. Seperti apa sepak terjang mereka di Liga Premier Inggris musim depan? Patut untuk disimak.