David Silva: Legenda Hidup Manchester City

Kekalahan atas Wolves di kandang awal bulan ini memang menjadi pertanyaan sendiri bagi kubu Manchester City. Penggantian David Silva yang ditarik keluar dan memasukkan penyerang lainnya, Gabriel Jesus pada menit 75 menghasilkan malapetaka bagi Guardiola. Bagaimana tidak, skor yang saat itu masih 0-0 malah berbalik menjadi 0-1 di menit 80 dan 0-2 di waktu tambahan.

Kondisi Silva yang tidak lagi muda, 75 menit bisa jadi batas waktu paling produktifnya belum lagi jika kita menilik jadwal padat yang dimiliki Manchester City, bukan tidak mungkin Silva tidak lagi menjadi bagian utama skuad Guardiola di musim depan.

Bersama R. Mahrez dan R. Sterling, David Silva menyokong serangan dari Sergio Aguero di depan. Walaupun kecepatan bisa diambil alih dari kedua sayap Man City tersebut, Silva kurang mampu untuk menciptakan serangan dari penguasaan bola tinggi, 76% dalam 90 menit pertandingan itu.

Performa Silva

Di masa emasnya, David Silva mendapat julukan penyihir karena kemampuan dribbling yang luar biasa, mampu menciptakan peluang dari nol. Dalam pertandingan melawan Wolves, dia bukan lagi pusat kreativitas dengan kondisi fisik yang mulai menurun, di usianya yang menginjak 33 tahun.

Walaupun sepanjang kariernya di Liga Inggris, David Silva berhasil mencetak 85 assist sejak debutnya 9 tahun yang lalu. Nilai yang jauh di atas pemain lain, di mana penantang terdekat hanya berhasil menghasilkan 60 assist saja. Belum lagi jika kita hitung kontribusi operan sebelum assist, yang setengah nilainya saja sudah melebihi pesaing terdekatnya di Liga Premier Inggris.

Pindah di akhir musim?

Setelah membela klub selama 10 musim saat kontrak berakhir, sihirnya memang tampak memudar walaupun jumlah assist nya mencapai 4. Namun masih kalah dari Kevin de Bruyne dengan total 8. Di usianya yang akan menjadi 34 tahun pada Januari tahun depan memang akan mematahkan semangat banyak pihak untuk kembali melihatnya bermain di level tertinggi pada musim berikutnya.

Guardiola sendiri menyangsikan kondisi fisik dari Silva akan mampu untuk mengimbangi jumlah laga yang akan dimainkan Manchester City musim ini. Kontrol akan laga yang dimainkan menjadi penting, namun jika hal ini diterapkan, akan mempengaruhi gaya permainan klub secara keseluruhan. Ini adalah kelemahan dari rotasi pemain. Karena itu banyak pelatih yang tetap memainkan 11 pemain yang sama secara reguler dan menjadi tulang punggung tim dalam satu musim. Lain cerita jika terjadi cedera atau larangan bermain. Namun ide Silva untuk bermain satu kali dalam dua pekan, seharusnya dihindari oleh Pep Guardiola.

Yang paling bisa dilakukan Guardiola saat ini, adalah mencari pengganti reguler untuk posisi Silva. Memang ada Kevin de Bruyne untuk itu, dan ia juga terlihat siap untuk mampu menggantikan pemain nasional Spanyol mengemban tanggung jawab yang sudah dilakukannya dalam 9 tahun terakhir membela Manchester City.

Silva sendiri pernah mengatakan kepada penggemar bahwa ia memiliki keinginan untuk kembali membela Las Palmas sebelum ia pensiun suatu hari. Walaupun ada beberapa tawaran dari klub Jepang untuk menggaet jasanya.

Untuk saat ini pemain yang sudah meraih berbagai gelar klub dan internasional ini masih fokus untuk bermain bersama klubnya dan belum memutuskan potensi tujuan karier berikutnya. Usia memang menjadi kendala bagi seorang olahragawan, dan tidak ada yang bisa lari dari hal tersebut.

Terima kasih David Silva atas atraksi di lapangan dan penggemar Man City bisa mempertimbangkan 10 tahun jasanya bagi klub selama ini apakah berhak ia untuk disebut legenda klub atau tidak.