Bagaimana Transformasi Taktik Manchester City Bersama Guardiola

Pep Guardiola adalah seorang genius sepak bola. Ia berhasil memenangkan 8 gelar liga dari tiga negara berbeda, lima piala domestik sampai dua gelar Liga Champions menghasilkan tiga tim dengan fundamental permainan yang kuat. Barcelona pada tahun 2009 adalah salah satu tim terbaik yang pernah ada. Dengan sukses terakhir terlihat dari Manchester City, di mana berhasil memenangkan sederet gelar domestik dengan total 198 poin. Walaupun harus terhenti lewat gelar juara Liverpool pekan lalu.

Semua orang tahu ia seorang ahli taktik, di mana menerapkan total football dari Cryuff dengan tekanan tinggi kepada lawan. Namun, apa saja yang membuat ia menjadi sangat mendominasi dibandingkan pelatih lainnya?

Penggunaan Sistem Grid

Taktik yang digunakan Guardiola sangatlah rumit, dengan setiap pemain harus disiplin terhadap posisi mereka untuk memastikan bentuk tim sempurna setiap saat. Ide di balik penguasaan bola adalah demi menjaga kontrol permainan dengan sedikit demi sedikit membawa bola ke depan gawang lawan.

Guardiola menerapkan ini dengan membagi lapangan bola menjadi 24 area, di mana tidak ada dua pemain masuk ke area yang sama. Hal ini memastikan keseluruhan lapangan dapat dimanfaatkan menjadi ruang gerak pemainnya.

Maksimalkan Ruang Antara Bek

Ruang antar bek tengah dan sayap adalah bagian yang bisa dimanfaatkan playmaker untuk membuka serangan. Nama-nama seperti Kevin De Bruyne dan David Silva yang menjadi tandem di Manchester City tampak sangat cair untuk saling berganti posisi sehingga membingungkan barisan pertahanan lawan. Hal yang sama diperagakan Andres Iniesta dan Lionel Messi di Barcelona untuk menciptakan banyak peluang bagi tim mereka.

Area ini bisa dimanfaatkan Guardiola jauh lebih baik dibandingkan posisi nomor 10 pada umumnya, di mana area antara bek dan pemain tengah di sepak bola modern biasanya meninggalkan satu orang pemain jangkar yang sulit untuk dilewati.

Inovasi Tiada Henti

Bagaimanapun, kreativitas Guardiola dalam setiap instruksi pertandingan di lapangan bisa menjadi pembeda bagaimana ia bisa mengubah taktik timnya setiap saat. Selain itu juga inovasi baru seperti bek sayap yang masuk ke tengah, false nine, pemain tengah sebagai bek dan sebagainya.

Inovasi tiada henti dari Pep memastikan ia selalu meningkatkan kapasitas timnya untuk bersaing setiap musim. Tidak dipungkiri lagi hal ini memastikan timnya mampu merangkul gelar juara secara beruntun.

Campuran Taktik Dan Kebebasan

Kelebihan lain yang diperagakan Guardiola adalah dalam menggabungkan organisasi posisi disiplin dengan kebebasan pemain untuk kreatif dalam menciptakan peluang gol di sepertiga bagian lapangan. Ia memberikan ruang gerak bagi penyerang saat sampai ke kotak penalti, dengan harapan timnya bisa menunjukkan kualitas individu masing-masing pemain.

Ia melihat tanggung jawab seorang pelatih adalah untuk membawa bola ke depan kotak penalti lawan, dan memastikan penyerang siap untuk menciptakan peluang. Sampai barisan penyerang harus bisa mencari solusi sendiri menghasilkan gol.

Tingkat kepercayaan kepada penyerangnya, ditambah teknik kepelatihan yang mendalam, menjaga kepuasan pemain bintang seperti Raheem Sterling, Silva, dan De Bruyne untuk berkembang.

Beragam Taktik Dan Formasi Latihan

Guardiola memanfaatkan jeda akhir musim untuk membiasakan timnya dengan berbagai gaya permainan, sehingga mereka siap saat bisa mengubah taktik kapan saja sepanjang musim. Ketiga tim yang dilatih selama ini pun selalu memiliki tujuh sampai delapan formasi berbeda yang kapan saja bisa digunakan saat dibutuhkan.

Tingginya tingkat pemahaman pemain akan taktik membuat Guardiola selalu memiliki cadangan amunisi saat situasi memaksa timnya, sekaligus lawan akan sulit untuk beradaptasi dengan gaya permainan mereka sepanjang musim. Guardiola berbeda, ia tidak hanya bergantung pada kualitas pemain, namun memiliki nilai tambah yang kini sulit ditemukan pada pelatih era modern saat ini.